Menilai Ujian Santri Dengan Adil dan Bijaksana
Saat
ini, hampir di seluruh lembaga pendidikan dasar dari SD hingga SMA, sedang
melaksanakan ujian akhir semester. Satu agenda rutin semesteran untuk menilai
atau mengevaluasi proses pembelajaran selama satu semester. Hasil dari ujian
ini kemudian didokumentasikan dalam bentuk raport penilaian yang akan dibagikan
sebelum liburan akhir semester.
Di
pondok kami, Tsurayya Islamic School Malang atau TISMA juga melaksanakan agenda
serupa. Bahkan agenda ujian ini sudah dilaksanakan sejak 2 pekan yang lalu.
Total masa ujian santri TISMA adalah tiga pekan dengan beragam bentuk dan
materi yang diujikan. Dari mulai ujian kajian kitab turats, ujian materi
peminatan, ujian diniyah dan yang terakhir ujian tulis.
Di
saat para santri sibuk mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan ujian
dengan belajar sungguh-sungguh, maka para guru juga ditunggu tugas yang tidak
kalah penting yaitu mengoreksi lembar ujian santri. Hasil akhir koreksian para
guru berbentuk angka dari 1 hingga 100 yang pastinya angka tersebut menunjukkan
kemampuan santri menjawab soal-soal ujian.
Setelah
nilai ujian didapatkan, muncul pertanyaan, apakah adil menilai hasil
pembelajaran santri selama kurang lebih 5 bulan hanya dengan satu kali ujian?
Apakah angka yang didapatkan santri saat ujian benar-benar menjadi ukuran
ketuntasan dan keberhasilan proses belajar santri selama satu semester?
Sepertinya
kurang adil jika nilai-nilai ujian yang berbentuk angka tersebut kita jadikan
acuan utama dalam menilai para proses pendidikan dan pembelajaran yang telah
dilewati santri. Jika angka yang diperoleh pada satu materi rendah, maka itu
tandanya santri tidak tuntas atau kurang berhasil dalam materi tersebut.
Sebaliknya, jika nilai yang diperoleh tinggi maka muncul anggapan bahwa santri
tersebut berhasil menuntaskan pembelajaran dengan baik.
Mengapa
metode seperti ini dikatakan kurang adil atau bahkan tidak adil? Karena ada
begitu banyak aspek yang harus kita tinjau saat menilai keberhasilan proses
pendidikan dan pembelajaran santri. Dari mulai aspek kecerdasan intelektual
atau IQ anak yang berbeda-beda. Kita sepakat bahwa ada santri yang cukup
kesulitan dalam menghafal atau memahami pelajaran. Santri yang demikian
pastinya akan amat kesulitan untuk menyamai prestasi temannya yang lebih
cerdas.
Selanjutnya
ada aspek ketertarikan atau minat santri terhadap materi pelajaran. Jarang
sekali kita temukan anak yang memiliki minat belajar yang sama rata untuk
seluruh pelajaran alias menyukai semua pelajaran. Bahkan ada santri yang kurang
berminat belajar di kelas tapi ketika ada kegiatan outdoor nampak begitu unggul
dibanding teman-temannya. Aspek ini punya pengaruh cukup besar terhadap
pencapaian anak-anak saat ujian.
Ada
lagi aspek lucky atau keberuntungan. Ini nyata adanya. Ada santri yang
selama masa pembelajaran di kelas, dia bisa mengikuti dengan baik dan menjadi
santri unggulan. Namun saat datang masa ujian, ternyata kesehatannya terganggu
alias sakit. Sebaliknya, ada santri yang biasa-biasa saja, tapi entah kenapa
saat ujian tiba-tiba jadi jago dan dapat nilai yang baik. Dan aspek-aspek yang
lainnya.
Maka
di masa-masa ujian ini, saya sebagai guru tidak pernah menuntut mereka untuk
mendapatkan nilai yang bagus. Saya hanya meminta mereka untuk mempersiapkan
diri dengan sebaik-baiknya. Baik persiapan dhahir dengan belajar
sungguh-sungguh ataupun persiapan bathin dengan memperbanyak doa kepada
Allah. Saya juga meminta mereka agar berpegang teguh kepada kejujuran.
Sungguh keberhasilan haqiqi dari santri adalah saat mereka mendapatkan ilmu yang berkah dan manfaat yang dengannya mereka menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Akhlak mulia inilah yang menjadi nilai utama mereka berapapun angka yang tercantum pada nilai ujian mereka.







Komentar
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar