Kau Tak Apa-Apa, Nak??
Alkisah
hiduplah seorang anak laki-laki sebut saja Rijal bersama seorang ibu yang
sangat mencintainya, ayahnya telah meninggal ketika usianya masih sangat kecil.
Sang ibu sangat
mencintai anaknya. Sebagai orang tua tunggal, dia berusaha menghidupi diri dan
anaknya sekuat tenaga. Rijal pun sangat mencintai ibunya, yang sangat sayang
kepadanya dan telah banyak berkorban untuk melindungi dan membesarkannya.
Rijal pun telah
tumbuh dewasa, dan mengenal seorang wanita. Wanita cantik yang menjadi dambaan
semua pria. Dengan kegigihan usahanya, akhirnya sang wanita bersedia
menerimanya.
Sang ibu
awalnya kurang setuju dengan hubungan keduanya, dia melihat ada kekurangan
dalam diri si wanita, penilaian yang didasarkan pandangan seorang wanita
sekaligus ibu. Tetapi demi kebahagiaan si anak, sang ibu akhirnya menyetujui
pernikahan mereka.
Setelah
menikah, Rijal tinggal bersama istrinya. Sang ibu tinggal di rumah lamanya
seorang diri.
Rijal sering
mengunjungi ibunya untuk melihat keadaan ibu yang dicintainya, begitu pula sang
ibu, sering mengunjungi Rijal untuk melihat keluarga anak yang dicintainya.
Ketika Rijal
mengunjungi ibunya atau ketika sang ibu mengunjungi anaknya, istri Rijal merasa
cemburu, dia merasa Rijal lebih mementingkan ibu dari pada istrinya, dia merasa
rijal lebih mencintai ibunya. Makin lama kecemburuan itu berubah menjadi
kebencian, ya.. istri Rijal sangat
membenci mertuanya.
“ Apakah kau
mencitai ku wahai suamiku ? “. Tanya istri Rijal disuatu hari.
“ Tentu saja
wahai cintaku “. Jawab Rijal.
“ Apakah kau
mencintaiku lebih dari segalanya danÂ
akan melakukan apa saja demi cintamu kepadaku ? “. Tanya istri Rijal
lagi.
“ Tentu saja,
aku akan lakukan apa saja demi membuktikan ketulusan cintaku kepadamu “. Jawab
rijal penuh kesungguhan.
“Aku melihat
kau lebih mencintai ibumu dari pada aku “ lanjut istri Rijal.
“Aku
mencintainya karena dia ibuku “. Bela Rijal.
“Aku ingin kau
mencintaiku lebih dari segalanya wahai suamiku ! Buktikan pengakuan cinta
tulusmu kepadaku ! “. Bentak istri Rijal.
“Dengan apa aku
harus membuktikan cinta tulusku kepadamu cintaku? “. Tanya rijal pasti.
“Buktikan
cintamu dengan membawa kepala ibumu kehadapanku ! “.
“Maksudmu… aku
harus membunuh ibuku ?? “ Rijal memastikan seakan tidak percaya.
“Aku tidak
main-main Rijal ! kau pilih aku atau ibumu ! “ bentak istri Rijal lagi, “ Jika
kau tidak membawa kepala ibumu, aku akan pergi meninggalkanmu ! “.
Rijal terdiam,
bingung terpaku. Bagai disambar petir, menghadapi dilema besar dalam hidupnya.
Dia sangat mencintai istrinya yang sangat cantik, yang dahulu dia berusaha
mati-matian untuk mendapatkan hatinya. Di sisi lain dia juga sangat mencintai
ibunya yang sangat mencintainya, yang telah banyak berkorban untuk melindungi
dan membesarkannya sejak kecil.
Rijal yang
masih bingung dalam dilema terus dikompori oleh sang istri untuk membuktikan
cintanya. Lama kelamaan hati Rijal mulai gelap, dia mulai takut kehilangan
wanita cantik yang dicintainya.
“Kau datang
sendiri saja, Jal? “ Tanya sang ibu ketika Rijal datang di sore hari.
“Istriku kurang
enak badan bu, dia sedang istirahat di rumah “. jawab Rijal.
“Oh.. semoga
istrimu cepat sembuh jal. kau sudah makan ? Didapur masih ada masakan ibu tadi
siang, makanlah!“.
Sang ibu telah
terlelap tidur di kamarnya. Rijal mulai beranjak untuk melaksanakan niatnya
membuktikan cinta kepada istrinya.
“Dia adalah
ibumu sendiri Rijal, yang telah mengandungmu selama 9 bulan, yang telah
mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkanmu, yang telah berkorban untuk
melindungi dan membesarkanmu sejak kecil sampai kau dewasa, tega kah kau
membunuhnya demi wanita yang baru beberapa tahun kau kenal ? “. Hati kecil
Rijal mulai berontak.
Rijal mulai
ragu untuk melaksanakan niatnya. Akan tetapi kata-kata istrinya yang mengiang
di telinga Rijal mulai memanasinya untuk melaksanakan pekerjaan terkeji dalam hidup seorang manusia. Mendurhakai ibu
kandungnya, bukan hanya itu.. membawa kepala ibu yang telah mengandung,
melahirkan dan membesarkannya dengan kasih sayang demi pembuktian cinta.
Hati Rijal
kembali gelap, berontak hati kecilnya tertutup oleh ngiang nyanyian sang istri
“ kau pilih aku atau ibumu ! “. Dengan sebilah golok tajam yang ia persiapkan
dari rumahnya, Rijal berjalan memasuki kamar ibunya.
Sang ibu
terlelap dengan tenang dalam tidurnya, tenang karena merasa aman dengan
kehadiran anak laki-laki yang selama ini dia besarkan dengan kasih sayang.
Rijal semakin
dekat dengan ranjang dimana sang ibu terlelap tenang. Hati kecil yang berontak
sama sekali tak meringankan langkah kaki Rijal. Kemudian dengan hati yang sudah
sangat keras dan gelap, tanpa ragu Rijal menggorok leher sang ibu. Ibu Rijal
tetap bergeming dalam lelap tenangnya, terlelap tenang karena merasa aman
dengan kehadiran anak kesayangannya, dan akhirnya terlelap tenang untuk
selamanya.
Rijal
membungkus kepala ibunya dan beranjak pulang ke rumahnya.
Awan gelap
menyelimuti langit, sebagaimana kegelapan menutup hati Rijal. Hujan pun mulai
turun dengan deras, di iringi petir yang menyambar-nyambar, langit seakan murka
dengan kekejian yang terjadi malam itu. Rijal sudah tidak sabar ingin sampai di
rumah dan menunjukan bukti cinta kepada istrinya, hujan deras dan kilatan petir
yang menyambar tidak di hiraukannya, dia terus berlari menuju rumahnya.
Hujan deras
membuat tanah yang Rijal lalui menjadi licin, akan tetapi semangat Rijal untuk
memperlihatkan bukti cinta tidak membuatnya memperlambat larinya. Akhirnya
Rijal terpeleset dan terjatuh, bungkusan kepala ibunya terlepas dan terjatuh
beberapa hasta darinya.
Rijal masih
tertelungkup dengan wajah berlumuran lumpur, dia berusaha untuk bangun.
Bersamaan dengan itu dia lihat kepala
ibunya memandang ke arahnya, wajah yangÂ
tenang dan damai, tiba-tiba mimik wajah sang ibu memperlihatkan kekhawatiran. Lalu Rijal
mendengar suara yang tidak asing, yang keluar dari kepala di hadapannya
“hati-hati nak.. kau tidak apa-apa anakku..? ”.
Rijal terpaku,
tubuhnya lemas, hatinya yang gelap dan keras mulai meleleh, mengalirkan air
mata penyesalan.
Terkadang kita
merasa orang tua kita egois terutama ibu, tidak mau menuruti keinginan kita,
selalu melarang, selalu ingin di dengar.
Tapi pernahkah
kita membuka mata kita untuk memandang sebagai mereka memandang? pandangan
kasih sayang kepada anak-anak yang telah mereka kandung selama 9 bulan,
pandangan kasih sayang kepada anak yang mereka lahirkan ke dunia dengan taruhan
nyawa, pandangan mereka kepada anak yang mereka susui selama 2 tahun, pandangan
mereka kepada anak yang mereka telah berkorban untuk melindungi dan
membesarkannya… pandangan kasih sayang seorang ibu..
Kita terkadang
tidak menyadari, bahwa diri kita lah yang mungkin telah egois, yang selalu
ingin di turuti, yang hanya memandang kepentingan sendiri.
Bukalah mata
kita, dan memandanglah dengan pandangan mereka, sebelum kita berbuat sesuatu
yang akan menghasilkan penyesalan.()
Moe’alleem Tisma







Komentar
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar