Didiklah Nafsumu, Nak.

Pagi itu terasa cerah, terlalu cerah bahkan, seolah memberi isyarat agar aku tidak sekadar duduk diam. Semangat itu membawaku mengamati sudut-sudut rumah yang selama ini luput dari perhatian. Pandanganku berhenti di dapur—tempat yang jelas telah melewati banyak “peperangan” dengan minyak goreng, saksi bisu usaha mencari rezeki. Kompor dan meja dapur tampak lelah, seakan meronta-ronta meminta perhatian.

Aku pun mengalah pada mereka. Waktu luang yang tersisa kurelakan untuk membersihkan dapur. Menit demi menit berlalu, noda-noda perlahan menyerah. Ketika semuanya selesai, entah mengapa muncul perasaan lega—bahkan senyum kecil tersungging di wajahku, seolah bukan hanya dapur yang bersih, tapi juga isi kepala.

Sambil menikmati jeda itu, pandanganku kembali berkeliling. Ah, atap rumah. Sedikit bocor. Tidak parah, tapi cukup menggelitik untuk segera dibereskan. Masalahnya, bagaimana cara menambalnya?

Lalu terlintas satu nama. Pahlawanku yang keren. Manusia yang selalu siap dihubungi, setia memberi solusi, dan—yang terpenting—Ayah. Di usianya yang hampir menyentuh 60 tahun, beliau masih begitu bugar. Tetap semangat mengerjakan proyek-proyek yang “ditugaskan ratunya tercinta”, bahkan saat berpuasa. Sosok yang bagiku bukan hanya orang tua, tapi juga cermin: tentang kesabaran, kekuatan, dan kedisiplinan jasmani, rohani, serta spiritual.

Aku meraih gawai di kamar, membuka WhatsApp. Mataku sempat tertahan pada satu kontak bertuliskan Bapakku Juragan Kost. Ah, jangan dulu. Kucoba kirim pesan ke grup keluarga saja. Baru juga terkirim, telepon masuk. Dari sang ratu—Ibu tercinta. Tak lama, sambungan berpindah ke Bapak yang sedang makan siang. Dengan suara tenang, beliau memberi saran: aquaproof, langkah-langkah pengaplikasian, dan beberapa catatan kecil.

“Oke, siap laksanakan,” jawabku mantap.

Lalu, dengan senyum yang bisa kurasakan meski hanya lewat suara, beliau bertanya, “Nggak puasa Senin-Kamis, le?”

Deg. Aku langsung terdiam. Waduh. Lupa. Hari ini Senin.

“Bapak tadi puasa, Nak,” lanjutnya, “cuma dibatalin soalnya muntah-muntah. Harus makan sama minum obat.”

Aku menjawab sekenanya, sambil menggaruk kepala. Jujur saja, aku tidak puasa hari ini. Bapak tidak menegur. Tidak menghakimi. Hanya tersenyum, lalu memberi nasihat—nasihat yang pelan, tapi dalam.

“Nak… Bapak mendawamkan puasa Senin-Kamis dari zaman kuliah itu bukan tanpa sebab. Nafsu itu perlu dididik. Terus, bagaimana cara mendidiknya? Ya dengan puasa. Kamu boleh puasa Daud, Senin-Kamis, atau sebulan sekali seperti Ayyamul Bidh. Tapi jangan sampai tidak ada sama sekali… eman, le.” Aku terdiam.

Benar juga. Sudah lama aku tidak berpuasa Senin-Kamis. Entah karena sibuk, lupa, atau—kalau jujur—malas yang terus dipelihara.

Bapak melanjutkan, suaranya tetap lembut. “Nafsu itu, le… kalau tidak dididik, sebaik apapun perbuatanmu, pasti akan selalu ada nafsu ammarah yang menyertainya. Nafsu yang mengajak pada keburukan dan kezaliman. Maka puasa itu sejatinya adalah perang—mujahadah—melawan hawa nafsu. Supaya ia terjaga, terkendali, dan tunduk pada dirimu. Jangan sampai nafsu yang seharusnya kamu kekang, justru malah mengekangmu.”

Kata-kata itu menancap pelan, tapi pasti.
Beliau menutup dengan satu kalimat sederhana,

“Setidaknya, ada beberapa amalan yang kita istiqomahkan, le… walau sedikit. Sudah dulu ya.. bapak mau istirahat. Assalamualaikum.”
“Oke pak, semoga cepat sembuh ya, syafakallah, waaalaikumussalam.”
…..

Telepon pun berakhir. Namun nasihat itu tidak. Ia tinggal, berputar di kepala, dan pelan-pelan turun ke hati.

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar