Sejauh Mana Kau Memandang?

Pernahkah kau merenung sejenak, apa yang sebenarnya membedakan manusia dengan makhluk Allah lainnya?

Allah Yang Mahakuasa menciptakan dunia dan seisinya dengan segala macam bentuk, wujud, kelebihan, serta kekurangan masing-masing. Tak ada satu pun dari ciptaan-Nya yang sia-sia; semua terjadi atas kehendak-Nya dan telah memiliki garis ketentuan masing-masing, baik dalam hal rezeki maupun keberlangsungannya. Namun, dari sekian banyak ciptaan tersebut, manusia dibebankan amanah yang amat berat untuk menjadi khalifah atau pengelola di muka bumi ini.

Tentu tugas ini bukanlah sebuah kebetulan. Jikalau kita pikirkan lebih dalam, ada suatu hal yang dimiliki manusia namun tidak dimiliki oleh makhluk lain. Ya, hal tersebut tidak lain adalah Akal.

Akal adalah bukti anugerah Tuhan yang menjadi pembeda utama manusia. Keberadaannya sangat vital dalam keberlangsungan hidup kita. Jikalau akal manusia hilang, maka hilanglah rasa malunya. Jika rasa malu itu hilang, maka runtuhlah martabat kehidupannya. Hal tersebut seakan sudah menjadi sunnatullah bahwa akal adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup berbangsa, bermasyarakat, dan beragama.

Namun, sejauh mana manusia dapat memandang menggunakan akalnya? Bukankah sehatnya akal sangat erat kaitannya dengan lingkungan dan hal-hal yang dialami setiap individu? Mari sejenak mencermati kisah Abu Nawas berikut:

Abu Nawas adalah seorang pujangga dan sastrawan yang sangat cerdik pada zaman Kekhalifahan Abbasiyah. Suatu ketika, ia memanggil tiga murid kesayangannya untuk diuji keilmuannya. Ia ingin memberikan sebuah pengajaran penting tentang cara memandang kehidupan.

Satu per satu murid tersebut menghadap. Kepada murid pertama, Abu Nawas bertanya singkat, “Wahai muridku, lihatlah ke atas langit. Menurutmu, bintang-bintang di sana itu besar atau kecil?” Sang murid menjawab, “Bintang-bintang itu kecil, wahai Guru.” Abu Nawas pun mengiyakan jawaban tersebut.

Lalu murid kedua menghadap dengan pertanyaan yang sama. Dengan percaya diri, sang murid menjawab, “Menurutku, bintang-bintang di langit itu sangat besar.” Abu Nawas mengangguk pelan, mengakui kebenaran logika sang murid yang didasari ilmu pengetahuan yang baik.

Terakhir, tibalah giliran murid ketiga. Tatkala pertanyaan yang sama dilontarkan, dengan tenang ia menjawab, “Aku tahu bahwa bintang itu besar, akan tetapi bagiku ia tetap kecil.” Terkejutlah Abu Nawas mendapati jawaban yang berbeda ini. Ia bertanya mengapa demikian. Sang murid menjawab, “Karena bagiku, meskipun bintang itu besar, Sang Pencipta yang menciptakan bintang tersebut jauh lebih besar dari apa pun.”

Abu Nawas tersenyum bangga. Ia kemudian mengumpulkan semua muridnya dan menerangkan hikmah bahwa satu pertanyaan yang sama dapat melahirkan jawaban yang berbeda karena perbedaan tingkatan manusia dalam memandang:

  1. Memandang dengan Mata: Simbol bagi manusia yang minim ilmu. Bintang terlihat kecil karena ia hanya mengandalkan apa yang nampak secara kasat mata tanpa pemahaman yang dalam.
  2. Memandang dengan Otak: Simbol orang yang berilmu dan berpikir logis. Ia mampu menembus batasan mata dan memahami bahwa wujud asli bintang jauh lebih besar dari pandangan penglihatan.
  3. Memandang dengan Hati: Simbol ketawadhuan setelah ilmu didapatkan. Ia mengetahui besarnya bintang, namun akal dan hatinya membuka tingkat makrifat yang lebih tinggi: bahwa sebesar apa pun ciptaan Tuhan, ia tetap kecil di hadapan keagungan Sang Pencipta.

Hikmah Penutup: Sesungguhnya, sejauh mana kita memandang dunia bergantung pada sejauh mana kita menyelaraskan akal dengan hati. Ilmu yang hanya sampai di otak mungkin membuat kita pintar, namun ilmu yang sampai ke hati akan membuat kita sadar akan hakikat diri sebagai hamba.

Mari kita renungkan kembali: dengan apa kita memandang selama ini? Jangan sampai akal yang Tuhan anugerahkan hanya digunakan untuk mengejar kemegahan dunia yang nampak besar, namun lupa pada Zat Yang Maha Besar. Tatkala akal dan hati telah selaras dalam ketauhidan, barulah manusia dapat menjadi sebaik-baiknya khalifah yang memikul amanah Tuhan dengan penuh kerendahan hati.

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar