Tentang Sekolah Pertama, dan Kegelisahan Seorang Ayah

Lima tahun ini, hidup saya berubah pelan-pelan. Bukan karena jabatan, bukan pula karena pencapaian tertentu, tapi karena satu peran yang diam-diam paling menuntut, yaitu menjadi seorang kepala keluarga. Sejak itu, banyak hal yang dulu terasa jauh, kini datang sangat dekat, termasuk soal pendidikan, dan lebih khusus lagi; sekolah pertama bagi anak.

Sebagai Humas di lembaga pendidikan Islam, saya akrab dengan brosur, kurikulum, jargon mutu, dan deretan prestasi. Mendengar kata “unggulan”, “terakreditasi”, “berstandar internasional” rasanya begitu familiar.

Tapi ketika peran saya bergeser dari sekadar profesional menjadi seorang ayah, pertanyaan saya ikut berubah. Bukan lagi sekolah mana yang terbaik, melainkan sekolah mana yang paling manusiawi untuk anak saya kelak.

Perlahan saya mulai menyadari, sekolah pertama bukan sekadar tempat belajar membaca atau berhitung. Ia adalah ruang awal tempat seorang anak belajar tentang dunia, dirinya, orang lain, dan tentunya tentang Tuhan yang memiliki alam ini. Dalam Islam, pendidikan tidak pernah dimulai dari kecerdasan, tapi dari adab, namun tidak menafikkan bahwa keduanya berjalan di dalam pendidikan islam.

Teringat sabda Rasulullah ﷺ bahwa beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia. Kalimat itu terasa sederhana, tapi semakin dewasa, semakin terasa dalam. Sebab akhlak bukan sesuatu yang bisa diajarkan lewat papan tulis saja, ia tumbuh dari teladan, suasana, dan relasi sosial yang nyata.

Sebagai seorang yang juga rutin memperhatikan isu sosial, saya sering melihat ironi, bahwa anak-anak yang cerdas secara akademik, tetapi gagap secara empati. Sekolahnya bagus, nilainya tinggi, tapi ia asing dengan realitas di sekitar tempat tinggalnya. Di titik itu saya belajar, bahwa sekolah pertama sejatinya adalah miniatur masyarakat. Dari sanalah anak mengenal perbedaan, belajar berbagi, dan memahami bahwa dunia tidak berputar hanya di sekitar dirinya.

Robert Putnam, seorang ilmuwan politik dan sosiolog Amerika Serikat yang sangat berpengaruh, terutama dalam kajian modal sosial (social capital), demokrasi, dan kehidupan komunitas, pernah menulis tentang modal sosial, tentang bagaimana lingkungan yang hangat dan saling percaya membentuk manusia yang lebih utuh. Walaupun Putnam bukan seorang ilmuwan muslim, di bagian ini, sebagai orang tua “pemula” saya condong setuju.

Saya melihat itu bukan hanya teori. Anak-anak yang tumbuh di lingkungan sekolah yang inklusif, yang gurunya menyapa dengan nama dan mendengar cerita kecil mereka, cenderung lebih berani, lebih peduli, dan lebih sadar diri di lingkungan hidupnya, tidak anti sosial.

Lalu saya menoleh pada pendidikan Islam, yang sering disalahpahami hanya sebagai pendidikan agama. Padahal para ulama klasik seperti Al-Ghazali telah lama meletakkan pendidikan sebagai upaya menyatukan akal dan hati. Ilmu tanpa nilai, kata beliau, hanya akan menumbuhkan kesombongan. Dan nilai tanpa ilmu, hanya akan melahirkan kemandekan.

Kegelisahan saya menemukan bentuknya; sekolah pertama seharusnya tidak memisahkan ilmu dan maknanya. Anak tidak hanya diajari apa yang benar, tapi juga mengapa itu penting. Tidak hanya mengejar jawaban, tapi berani mengajukan pertanyaan yang kritis.

Saya juga belajar satu hal penting, bahwa guru dan mutu sekolah jauh lebih menentukan daripada gedung-gedung sekolah yang megah dan mewah. Anak-anak akan lebih lama mengingat cara gurunya memperlakukan mereka dibandingkan isi buku pelajaran, maupun bangunan sekolahnya.

Mengutip apa yang dikatakan John Dewey (1859–1952), seorang profesor di University of Chicago dan Columbia University, yang pernah mengatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, bukan persiapan untuk hidup.

Apa yang disampaikan Jhon Dewey, secara perlahan membuat saya sampai pada satu kesadaran penting sebagai orang tua, bahwa sekolah “tidak pernah benar-benar netral.” Ia selalu membawa nilai. Cara guru berbicara, cara anak-anak dipertemukan, cara perbedaan di lingkungan sekolah dikelola, semuanya diam-diam sedang membentuk cara anak memandang dunia ini lebih luas dan jauh.

Untuk itu, jika sejak awal sekolah hanya mengajarkan siapa yang paling cepat, paling pintar, dan paling unggul, maka anak hanya akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dunia adalah arena saling mengalahkan. Padahal, kehidupan nyata lebih sering meminta kita untuk saling menopang dan berkolaborasi dalam segala hal di kehidupan ini.

Karenanya, sekolah pertama menjadi ruang sosial paling penting bagi anak setelah rumah. Di sanalah ia belajar menjadi bagian dari masyarakat kecil sebelum kelak melangkah ke masyarakat yang lebih luas. Apa yang ia alami di sana, cara ia diterima, diajak bekerja sama, atau justru dibandingkan akan membekas jauh lebih lama daripada pelajaran di buku.

Dan mungkin, di situlah makna sekolah pertama yang sesungguhnya, bukan tempat anak diuji seberapa hebat ia sendiri, tetapi tempat ia belajar hidup bersama orang lain.

Kita sama-sama yakin bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kecil. Maka sekolah pertama bagi anak, harus menjadi tempat yang menumbuhkan kesadaran dan kemandirian, bukan ketergantungan. Tempat anak merasa aman untuk bertanya, salah, dan mencoba lagi. Bukan tempat yang membuatnya takut pada nilai, ranking, atau hukuman.

Pada akhirnya, saya sampai pada satu kesimpulan sederhana.

Bahwa, memilih sekolah pertama bukan soal mencari mana sekolah yang paling mahal atau megah bangungannya, tapi yang paling selaras dengan nilai yang kita hidupi di rumah. Sekolah hanyalah perpanjangan tangan orang tua. Ia tidak boleh berdiri berseberangan dengan rumah, ia harus berjalan searah.

Sebab sekolah pertama bukan hanya tentang hari ini. Ia adalah tentang jejak awal yang akan dibawa anak hingga dewasa. Dan sebagai orang tua, tugas kita bukan memilih yang sempurna, melainkan memilih dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Agar kelak anak kita dapat dibentuk menjadi generasi qur’ani, rabbani dan mandiri.

Generasi qur’ani, yang mengamalkan nilai-nilai Islam, ibadah dan akhlak mulia berlandaskan al-qur’an dan as-sunnah sebagai pedoman hidupnya. Menjadi Generasi Rabbani yang lurus pemahamannya, dapat berkolaborasi dan berpikir kritis dengan argumentasi yang kuat dan benar, serta dapat hidup menjadi Generasi Mandiri, yang disiplin, dengan etos kerja tinggi, bersih diri dan pikirannya, bermanfaat bagi ummat dan bangsa. Wa innallāha lahādī alladzīna āmanū ilā shirāṭin mustaqīm... Al-ḥaqqu min rabbika fa lā takūnanna minal mumtarīn.

*)Penulis adalah Humas Tsurayya Islamic School Malang, aktivis Kepemudaan Islam, tinggal di nestref.com

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar