Masjid, Malam Ganjil, dan Ibadah FOMO
Masjid pada banyak tempat pernah menjadi ruang yang hidup. Lantunan tilawah
terdengar sejak selepas magrib hingga menjelang subuh. Percakapan kecil para
jamaah mengisi serambi. Waktu berjalan, suasana perlahan berubah. Saf tidak
lagi rapat seperti dahulu. Beberapa masjid yang megah justru terasa terlalu
luas bagi jumlah jamaah yang datang.
Fenomena ini semakin terasa ketika Ramadan tiba. Hari-hari pertama selalu
dipenuhi semangat yang meluap. Masjid mendadak ramai. Parkiran penuh. Saf
meluber hingga ke halaman. Ramadan seperti memiliki kekuatan magis yang mampu
menggerakkan banyak orang untuk kembali ke rumah ibadah.
Beberapa hari berlalu, suasana itu mulai menipis. Saf yang semula rapat
perlahan renggang. Jamaah yang sebelumnya berdesakan kini tersisa separuh.
Minggu kedua menjadi masa seleksi yang sunyi. Ramadan masih panjang, tetapi
sebagian orang sudah selesai dengan semangatnya.
Puncak keramaian justru kembali muncul pada malam-malam ganjil di sepuluh
hari terakhir. Masjid kembali penuh. Ibadah malam menjadi tren yang ramai
diperbincangkan. Banyak orang berburu satu malam yang diyakini lebih baik dari
seribu bulan. Antusiasme itu tentu bukan sesuatu yang salah. Keinginan mengejar
kemuliaan malam tersebut adalah bagian dari harapan spiritual yang wajar.
Namun, pemandangan itu kadang menghadirkan ironi kecil yang terasa satir.
Keramaian yang mendadak muncul pada malam ganjil memberi kesan seolah Tuhan
hanya hadir pada malam-malam tertentu saja. Seolah-olah langit hanya terbuka
pada tanggal tertentu dalam kalender ibadah.
Tuhan mana yang sebegitunya pilih kasih?
Fear of
Missing Out (FOMO)
dalam Ruang Ibadah
Ramadan pada akhirnya juga tidak luput dari fenomena yang akrab dalam
kehidupan modern: FOMO (fear of missing out). Ketakutan tertinggal dari tren.
Ketakutan tidak ikut dalam sesuatu yang sedang ramai. Fenomena ini merembes
bahkan ke ruang ibadah. Masjid ramai pada momen yang dianggap “penting”,
sementara hari-hari biasa terasa jauh lebih sunyi. Tentu, ikut-ikutan hal baik
juga sebuah kebaikan, tidak ada salahnya.
Ramai pada awal Ramadan, ramai kembali pada malam ganjil, lalu kembali
lengang setelahnya. Pola itu berulang hampir setiap tahun. Ibadah seolah
mengikuti kurva popularitas. Antusiasme meningkat ketika momen terasa istimewa,
lalu perlahan turun ketika euforia mulai reda. Pola ini terlalu konsisten untuk
disebut kebetulan.
Masjid sebenarnya sudah banyak berbenah. Fasilitas semakin nyaman.
Pendingin ruangan terpasang rapi. Karpet empuk terbentang luas. Desain interior
semakin estetik. Sebagian bahkan memiliki pencahayaan yang terasa hangat dan
menenangkan. Ruang ibadah pada banyak tempat justru lebih nyaman daripada
banyak ruang publik lainnya.
Kenyataan itu tetap belum cukup untuk menjadikan masjid sebagai tempat yang
rutin dikunjungi. Kafe, pusat perbelanjaan, atau ruang hiburan sering kali jauh
lebih ramai dibandingkan rumah ibadah. Tempat-tempat tersebut memiliki daya
tarik yang terasa lebih kuat bagi banyak orang.
Fenomena ini bukan sekadar soal fasilitas. Persoalan utamanya terletak pada
cara manusia memaknai kedekatan dengan Tuhan. Hubungan spiritual sering
diperlakukan seperti agenda musiman. Ada waktu-waktu tertentu ketika seseorang
merasa sangat dekat, lalu kembali menjauh ketika momentum tersebut lewat.
Ramadan sering dijadikan alasan untuk kembali mendekat. Masjid kembali
penuh, tilawah kembali terdengar, dan ibadah terasa lebih hidup. Realitas yang
sering muncul justru menunjukkan hal yang lain. Ramadan saja belum tentu mampu
menjaga keramaian itu tetap bertahan.
Pemandangan yang cukup jujur terlihat ketika Ramadan masih berlangsung,
tetapi sebagian masjid sudah mulai sepi. Saf tidak lagi penuh seperti malam
pertama. Jamaah berkurang jauh sebelum bulan itu benar-benar berakhir. Kondisi
tersebut membuat satu kalimat terasa sangat masuk akal: pantas saja masjid
kembali sepi setelah Ramadan, ketika Ramadan sendiri belum benar-benar selesai,
tetapi nyatanya sudah mulai ditinggalkan.
Kesetiaan yang
Lebih Bermakna dari Euforia
Hubungan manusia dengan ruang ibadah kadang menyerupai hubungan manusia
dengan banyak hal lain dalam hidupnya. Rasa rindu terasa kuat ketika sesuatu
masih jauh dari jangkauan. Perjuangan terasa begitu besar untuk mendapatkan apa
yang diinginkan.
Kondisi berubah ketika sesuatu itu akhirnya dimiliki. Rasa yang dulu terasa
begitu kuat perlahan memudar. Kedekatan yang dahulu diperjuangkan tidak lagi
dirawat dengan kesungguhan yang sama. Bahkan yang dulunya istimewa, berakhir
pada rasa yang biasa saja.
Masjid mungkin sedang mengalami nasib yang serupa. Kerinduan terasa kuat
ketika jarang datang. Semangat terasa besar pada momen tertentu. Kedekatan itu
kemudian perlahan memudar ketika rutinitas kembali mengambil alih kehidupan
sehari-hari.
Rumah ibadah, pada akhirnya, tidak membutuhkan keramaian yang bersifat
musiman. Kehadiran yang konsisten jauh lebih berarti daripada euforia yang
datang sesaat. Saf yang tidak selalu penuh masih menyimpan nilai yang lebih
jujur dibandingkan keramaian yang hanya muncul pada momentum tertentu.
Masjid bukan panggung tren spiritual. Masjid adalah ruang pertemuan yang sederhana antara manusia dan Tuhannya. Keramaian sesekali tentu menyenangkan. Kesetiaan yang tenang justru jauh lebih bermakna. Masjid sejatinya hanya menunggu mereka yang datang tanpa perlu menunggu kalender menunjukkan malam itu ganjil ataukah genap.*







Komentar
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar